Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 5, 2016 in Artikel | 0 comments

Sepenggal Kisah Kejujuran

Sepenggal Kisah Kejujuran

Ahmad masih saja memegangi lembaran-lembaran ratusan ribu rupiah dengan tangan bergetar. Matanya membulat. Seingatnya belum pernah sebelumya ia melihat uang sebanyak ini.

Sejurus kemudian terdengar suara langkah kaki. Ahmad cepat-cepat memasukkan lembar-lembar uang itu ke dalam dompet seperti semula. Dengan sigap disembunyikan dompet itu ke dalam tas kumalnya.

“Ahmad, ayo main layang-layang ke tanah lapang!” Aji meraih layang-layang di kolong tempat tidur dan mengajaknya bermain.

“Ayuk! “  tawar Aji lagi melihat Ahmad tak bergeming.

Apa sebaiknya kuceritakan saja perihal dompet ini pada Aji ya, bisik Ahmad bimbang. Uang sebanyak ini tentu saja bisa untuk membeli sepeda baru impiannya dan melunasi tunggakan SPP tentu saja. Sudah dua kali ia membawa surat peringatan dari sekolah.

Dari kecil Ahmad tinggal bersama keluarga pakliknya. Lik Wardi adalah satu-satunya saudara yang tersisa yang kini merawat dirinya. Bapak dan ibu Ahmad meninggal saat gempa bumi melanda Yogya. Mbak Romlah kakak satu-satunya pun ikut meninggal.Rumahnya rata dengan tanah. Suatu keajaiban Ahmad yang saat itu berumur lima tahun sedang tidur pulas di atas tempat tidur  ditemukan selamat.

Ah, mengingat bapak ibu membuat ada rasa sedih merayap di dada Ahmad. Ahmad masih ingat sebelum meninggal malamnya ibu bercerita tentang kejujuran seorang anak penjual susu. Betapa anak tersebut mengingatkan ibunya, meyakini Allah swt mengetahui apapun yang dilakukan manusia sekalipun khalifah tidak tahu. Ibu juga sering sekali berpesan pada Yadi bahwa jangan sekali-kali ia mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Deg! Dada  Ahmad berdesir. Ia tersentak. Teringat kembali akan dompet itu.Tadinya ia ingin memberikan pada pakliknya untuk tambahan biaya hidup.

Sebetulnya Ahmad sering merasa tidak tega melihat kehidupan Lik Wardi yang susah. Usaha tambal ban kecil-kecilan menurutnya jauh dari cukup untuk menghidupi isteri dan tiga orang anaknya. Belum lagi keberadaan Ahmad di rumah ini tentu menambah beban pakliknya. Terkadang Ahmad dan Aji sepulang sekolah menjajakan jasa menyemir sepatu. Tapi hasilnya tidak seberapa.

Keadaan itulah yang mungkin membuat   Lik Yah isteri Lik Wardi gemar sekali mengomel sepanjang hari. Ingin rasanya Ahmad menyerahkan uang yang ada di dalam dompet ini untuk sekedar membuat Lik Yah tersenyum. Tapi bukankah dompet ini bukan haknya?

Ahmad beristighfar.  Diraihnya kembali dompet itu dari dalam tas. Dompet yang ia temukan di tepi jalan sepulang sekolah tadi. Mencari-cari sesuatu yang ada di dalamnya.

Nah, ini dia ketemu. Sebuah KTP tampak terselip rapi. Ada nama dan alamat. Matanya membulat,  Ternyata alamatnya tidak jauh dari kampung ini. Disambarnya sandal jepit bututnya. Ahmad bergegas.

*******

“Bodoh kamu Mad, kenapa tidak kau terima saja imbalan seratus ribu darinya. Kan lumayan bisa nraktir kita. Sekali-kali dong kamu nraktir kita. Betul gak Dim?”celetuk Doni kepada Dimas ketika akhirnya Ahmad tak kuat menyimpan rahasia penemuan dompet itu. Kejadian yang sudah sepekan ini ia simpan rapat-rapat. Dimas manggut-manggut membenarkan.

“Alaah, sok alim kamu Mad. Kenapa kamu ga cerita ke bapak? Coba uang itu kita ambil. Kita bisa beli sepeda polygon. Kan keren” Aji sepupunya yang sekaligus teman sekelas menimpali. Ahmad ingat beberapa waktu yang lalu ia dan Aji sempat membelai-belai sepeda polygon yang nongkrong di  bengkel Mas Yanto. Selain usaha bengkel sepeda Mas Yanto juga menjual sepeda second berbagai merek.

Ahmad terdiam. Sebelum ia sempat menjawab Bima datang,memberitahukan bahwa Ahmad dipanggil oleh Pak Prapto, kepala sekolah. Dengan berdebar-debar bergegas ke ruang kepala sekolah. Sengatnya ia tidak berbuat kesalahan. Atau jangan-jangan masalah tunggakan SPP yang belum juga terlunasi.

Di ruang kepala sekolah ada seorang laki-laki sedang berbincang renyah dengan Pak Prapto. Rasa-rasanya Ahmad sudah pernah bertemu. Ya, betul. Pak Jatmiko, pemilik dompet yang ia temukan waktu itu. Mengapa ia kemari?

“Sini duduk sini Ahmad. Ini Pak Jatmiko teman bapak kuliah dulu. Orang yang dompetnya kautemukan terjatuh di jalan tempo hari. Beliau sangat kagum akan kejujuranmu. Uang dan kertas berharga yang ada di dompet itu berjumlah sangat banyak dan tak ada selembarpun yang hilang.” Kata Pak Prapto. Ahmad duduk tak jauh dari Pak Prapto. Ia menunduk kikuk. Ketika Ahmad mengembalikan dompet ia ingat bahwa ia memang menyebutkan nama sekolah ini. Ketika itu Pak Jatmiko menanyakan sekolah Ahmad. Tapi mau apa Pak Jatmiko kemari?

“Dua hari yang lalu Pak Jatmiko kemari untuk mencari tahu tentang kamu. Ia terharu karena kamu ternyata sudah tidak punya orang tua dan hanya menumpang di rumah saudara yang kurang mampu pula. Ketika Pak Jatmiko tahu SPPmu belum terbayar beliau telah melunasi semuanya.” Lanjut Pak Prapto.

Ahmad terhenyak. Ia tak mampu berkata-kata. Senyum penuh terima kasih ia lemparkan pada Pak Jatmiko.

“Tidak hanya itu. Kalau kau mau tinggallah bersama kami. Dua anakku kuliah di luar negeri. Isteriku sudah lama meninggal sedangkan aku tak ingin menikah lagi. Di rumah sepi sekali. Aku ingin kau jadi anak angkatku. Aku yang akan membiayai sekolahmu setinggi yang kau mau. Bagaimana?” Pak Jatmiko menyambung kata-kata Pak Prapto.

Ahmad merasa badannya bergetar karena terkejut dan bahagia. Beberapa hari yang lalu ia sempat mengutarakan keinginan berhenti sekolah kepada pakliknya karena Ahmad meresa kasihan kepada pakliknya yang harus ikut membiayai sekolahnya.

Mimpinya menjadi ahli otomotif kembali berkibar di benaknya setelah beberapa waktu yang lalu dicampakkan jauh-jauh. Seketika Ahmad turun ke lantai, sujud syukur.  Tak dihiraukan ada air menganak sungai di pipinya. Tak dihiraukan senyum haru kedua bapak di depannya. Ia ingat Bapak, ingat ibu, ingat Mbak Romlah. Terima kasih Allah.

(Aisyah)

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: