Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Sejarah Singkat

 

Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah berdiri sekitar tahun 1986 ketika (Alm) Abah Yai Masyrokhan di Sekaran Gunungpati Semarang oleh seorang alim yang berasal dari Mranggen Demak mulai mengajar ilmu agama di Mushola sebelah timur Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah (saat itu belum berdiri) kepada anak-anak desa Sekaran dan sekitarnya. Selang dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1988, Abah yai mulai mengajar di rumahnya sendiri. Terdapat ±30 orang santri saat itu, mayoritas para santri berasal dari daerah gunungpati dan sekitarnya, sedangkan santri yang paling jauh berasal dari Limbangan dan Boja (Kendal).

Dengan kian bertambahnya jumlah santri yang mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah, pada tahun antara 2002-2003 para pengurus pondok dengan bimbingan dan arahan pengasuh, berinisiatif mendirikan Madrasah Diniyah (Madin) yang terdiri dari 5 kelas sebagai lembaga pengemas pendidikan di pondok pesantren yang lebih sistematis dan terstruktur secara professional, tentunya dengan sistem dan kajian kitab salaf.

Pendidikan di Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah terbagi menjadi 2 sistem, yaitu sistem kajian bandungan dan Madin. Dalam perkembangannya, dua sistem tersebut dapat meningkatkan efektivitas pendidikan di PPDA (Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah), ditambah lagi dengan adanya program khusus Tahfidzul Qur’an yang berlangsung sejak tahun 2011 membuat pondok ini kian maju pesat seiring berjalanya waktu. Lokasi pondok yang strategis berada di kawasan kampus Unnes ini merupakan tempat yang ideal bagi mahasiswa untuk mencari ilmu agama dan umum, sehingga dapat memperoleh ilmu akhirat dan dunia. Sampai saat ini (tahun 2016) total santri PPDA mencapai ±400 santri dengan 95% adalah mahasiswa.