Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jan 19, 2017 in Kabar Pondok | 0 comments

Santri Durrotu Aswaja Menggebu Lawan Berita “Hoax”

Santri Durrotu Aswaja Menggebu Lawan Berita “Hoax”

Semarang, Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljamaah telah mengadakan acara dialog interaktif terkait cara menyikapi berita hoax di media sosial. Acara ini dilaksanakan Rabu malam, (18/01) pukul 20.00 WIB sampai selesai.
Akhir-akhir ini, berita berita yang tidak sesuai kebenaran bertebaran di berbagai media, baik media sosial bahkan media massa yang dipercaya masyarakat. Berita tersebut lebih mudah diterima dan tanpa di klarifikasi lagi oleh pembaca. Alasan dilaksanakan acara ini ialah untuk membentangi para santri dalam menyikapi berita-berita hoax tersebut agar tidak ikut terbawa arus yang tidak benar. Pasalnya, berita hoax dan asli sulit dibedakan jika tidak ditelaah lebih lanjut. Jadi, kali ini diharapkan dialog nanti dapat memberikan arahan pada santri bagaimana sikap mereka terhadap berita hoax.
Bersama M Abdullah Badri, salah satu anggota tim cyber NU Jawa Tengah, para santri diajaknya menelaah bagaimana berita hoax itu; cirinya, sumbernya, dan isinya. Pembicara yang berasal dari Jepara ini menjelskan dengan pembawaan santai sehingga lebih mudah diterima oleh para santri.
Beliau menegaskan kembali pengertian berita hoax dan berita fake (palsu). “Berita hoax itu ilustrasinya merujuk pada fakta, tetapi isinya belum tentu fakta. Untuk berita fake semuanya tidak merujuk pada realitas manapun,” terang pembicara yang aktif di dunia cyber.
Lebih jelasnya, beliau memberi ilustrasi berita hoax seperti ini. Jika ada seorang laki-laki berfoto dengan perempuan di suatu restoran dan foto itu disebar dengan berita perselingkuhan, bisa jadi berita itu hoax. Pertama, ilustrasi jelas menunjuk pada fakta bahwa laki-laki berfoto dengan perempuan. Kedua, berita yang diturunkan mengenai perselingkuhan tidaklah benar karena mereka hanyalah berfoto.
Sedangkan berita fake, apabila foto dan berita yang diturunkan semakin ngawur dan tidak ada faktanya. Contohnya seperti berita si A melakukan kejahatan pembunuhan tetapi tidak ada foto pendukung yang menunjukkan bahwa si A membunuh. Yang seperti itu dinamakan berita palsu, fake.
Sikap seorang santri yang juga sebagai mahasiswa seharusnya mampu bersikap ilmiah, berfikir logis secara epistimologis, ontologis, dan aksiologis. Seperti yang dikatakan oleh Kang Doel –sapaan akrab M. Abdullah Bakri– “seorang mahasantri jangan seperti ‘pentol’ korek api, punya kepala tapi nggak ada isinya. Jadi, digesek sedikit langsung kebakar,” tandasnya.

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: