Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 7, 2017 in Kabar Pondok | 0 comments

Pertahankan Sistem Salaf Tanpa Tinggalkan Kholaf

Pertahankan Sistem Salaf Tanpa Tinggalkan Kholaf

Ponpes Durrotu Aswaja

SM/Dok BERZIARAH : Santri Pondok Pesantren Durrotu Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) dan warga sekitar berziarah ke pendiri ponadok, almarhum Kiai Masrchan di salah satu makam di Kelurahan Sekaran, Gunungpati, belum lama ini. (22)

SM/Dok
BERZIARAH : Santri Pondok Pesantren Durrotu Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) dan warga sekitar berziarah ke pendiri ponadok, almarhum Kiai Masrchan di salah satu makam di Kelurahan Sekaran, Gunungpati, belum lama ini. (22)

Sistem pendidikan di pondok pesantren telah berkembang pesat. Hal itu juga terjadi di Ponpes Durrotu Aswaja yang memadukan sistem pendidikan salaf dan kholaf.

KEBERADAAN pondok pesantren (ponpes) di Kota Semarang dalam mengisi pendidikan Islam tak diragukan lagi. Ponpes juga memiliki andil dalam menangkal berbagai paham menyimpang. Salah satunya adalah Ponpes Durrotu Aswaja di Jalan Kalimasada, Gang Abimanyu II No 10 RT 8 RW5, Kelurahan Sekaran, Gunungpati.

Ponpes itu berdekatan langsung dengan Kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes). Keberadaannya bisa menjadi ”oase” di tengah lajur derasnya pendidikan modern.

Penerus Ponpes Durrotu Aswaja, Kiai Agus Romadhon menuturkan, ponpes itu sudah berdiri sejak 1986, jauh sebelum ada Kampus Unnes di Gunungpati. Adapun pendirinya almarhum Kiai Masrochan (Abah Masrochan).

Dia meninggal sekitar 1,5 tahun lalu. Kini pengelolaannya diteruskan menantunya Pondok pesantren itu didirikan dari kegigihan dan ketekunan Abah Masrochan mengajar warga kampung setempat.

”Dulu belum berbentuk pesantren. Abah hanya mengajar warga kampung,” tuturnya. Pondok pesantren itu kini berkembang. Tercatat ada sekitar 500 santri yang belajar di sana.

Mereka tidak hanya belajar kitab kuning, namun ada juga yang belajar menghafal Alquran. Prinsipnya, kata Agus, Ponpes Durrotu Aswaja memegang teguh kearifan lokal yang pernah diajarkan Masrochan.

”Kami tetap memakai sistem salaf tanpa meninggalkan kholaf,” kata alumnus Universitas Sunan Giri itu. Salaf adalah sistem mengaji bandongan (guru mengaji dan santri menyimak sambil memaknai kitab). Adapun kholaf adalah pembelajaran dengan menggunakan kelas.

Dia mengatakan, Ponpes Durrotu Aswaja tidak menutup kemungkinan menerima keadaan baru yang dianggap masih relevan. Di sisi lain, kata Agus, ponpes tetap mempertahankan nilai nilai luhur yang pernah diajarkan orang-orang salih terdahulu.

”Kalau dalam usul fiqih itu kan ada Almuhafadhotu Ala Qadimi Sholih, Wal Akhdu Biljadidil Ashlah’’, (merawat hal hal lama yang baik dan mengambil sistem baru yang lebih baik-Red).

Nah, itu yang menjadi dasar pijakan kami dalam mengemban amanah ini,” tuturnya. Dia mengatakan, orang harus bisa menyikapi antara tradisi dan pembaharuan.

Menurut dia, seseorang, baik santri, pelajar, mahasiswa atau masyarakat harus piawai dalam melihat kondisi di depannya. Hal ini untuk mengasah kemampuan dan ketrampilan.

Tiga Kegiatan

Setidaknya ada tiga kegiatan rutin di ponpes tersebut, yakni harian, mingguan, dan bulanan. Untuk kegiatan harian meliputi, shalat maktubah berjamaah, kajian kitab bandongan, madrasah diniyah, dan qiyamul lail (shalat malam).

Adapun kegiatan mingguan meliputi, khitobah, kultum, pembacaan Manaqib Jawahirul Maani, maulidur rasul, Ratibul Haddad, musyawarah fiqih, dan ziarah ke makam pendiri Pondok Pesantren Durrotu Aswaja.

Terakhir, kata dia, kegiatan bulanan yang meliputi, sewelasan, selapanan Tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah, dialog interaktif, pembacaan arwah jamak dan pembacaan ratibul kubro. (Siswo Ariwibowo-22)

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/pertahankan-sistem-salaf-tanpa-tinggalkan-kholaf/

 

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: