Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jan 23, 2017 in Artikel | 0 comments

Orang-orang Nasrani Penolong Nabi

Orang-orang Nasrani Penolong Nabi

 

Beberapa waktu belakangan ini Indonesia sedang mengalami ujian dalam menjaga kesatuan dan persatuan NKRI. Banyak sekali tindakan-tindakan intoleran yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan agama, dan tentunya menciderai nilai-nilai persatuan yang dijunjung oleh pancasila sebagai dasar negara kita.

 

 

Pada akhir tahun 2016 kemarin kita digegerkan dengan aksi besar di ibu kota yang menuntut kasus penistaan agama terhadap seorang non muslim, perihal mengenai surat Al-Maidah ayat 51. Menurut sebagian kaum muslim di dalam surat Al-Maidah ayat 51 melarang kita untuk berteman erat atau menjadikan pemimpin dari kaum yahudi dan nasrani.

 
Terlepas dari hal tersebut sebenarnya kita dapat melihat sejarah nabi Muhammad SAW diawal perjuangannya, bahwa pada masa-masa tersebut nabi pernah ditolong oleh orang-orang dari kaum nasrani.

 
Pertama, ketika nabi Muhammad SAW berdangang dengan pamannya Abu Thalib ke negeri Syam, mereka berdua bertemu degan pendeta nasrani yang bernama Buhaira. Sang penedeta membuka tabir sosok Muhammad sebagai nabi Allah yang terakhir. Untuk itu pendeta Buhaira menyuruh Abu Thalib untuk mengajak pulang ke Makkah karena keselamatan Muhammad bisa terancam.

 
Kedua, Saat nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama sebagai tanda kenabian, beliau mengalami guncangan psikis yang dahsyat. Kemudian istri nabi Siti Khadijah mengajaknya ke pamannya Waraqah bin Naufal yang merupakan seorang nasrani. Paman Khadijah meyakinkan dan menenangkan Nabi Muhammad SAW bahwa hal yang dialaminya merupakan wahyu sebagai pertanda turunnya tanda kenabian.

 
   Ketiga, Periode dakwah nabi yang dilakukan di Makkah mengalami penolakan dan perlawanan oleh kaum Quraisy. Beliau kemudian hijrah ke Etiopia dan meminta suaka kepada Raja An Najjasyi yang merupakan seorang nasrani. Akhirnya nabi Muhammad SAW mendapat perlindungan dari pembunuhan kaum Quraisy.

 
Walhasil, sikap toleransi terhadap suku, ras dan agama lain mesti kita junjung sebagaimana yang diajarkan nabi Muhammad SAW. Keberagaman yang ada di bumi Nusantara merupakan sebuah sunnatullah dan rahmat yang tidak terelakkan. (ulin)

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: