Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Mei 7, 2017 in Kabar Pondok | 0 comments

Musyawarah Kubro Ponpes Durrotu Aswaja

Musyawarah Kubro Ponpes Durrotu Aswaja

Semarang – Ponpes Durrotu Aswaja adakan kegiatan Musyawarah Kubro (Musbro) yang dihadiri oleh H. M. Sa’dullah Ash Shodiq dari LBMNU Cabang Kota Semarang (6/5). Kegiatan musbro ini merupakan serangkaian dari acara Haflah Akhirussannah (HAS) XXVII Po npes Durrotu Aswaja.

Musyawarah kali ini membahas tentang hukum ta’mir masjid yang tidak mau mensholatkan orang yang diangap sebagai penista agama. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 ini bertempatkan pada aula putri lantai 3. Tidak hanya dari santri-santri Ponpes Durrotu Aswaja saja yang ikut berpartisipasi dalam musyawarah tersebut, tetapi diikuti oleh beberapa santri dari Pondok Pesantren di Kota Semarang seperti Ponpes Darul Falah dan Ponpes Luhur Wahid Hasyim. Tidak hanya para santri yangikut memeriahkan musyawarah tersebut, tapi dengan adanya group rebana Ad Durrota dan BAZAR Buku menjadikan kegiatan ini semakin rame.

Sebelum ke inti musyawarah, M. Eko Saputro sebagai moderator dan M. Firdaus Reza sebagai notulen mempersilahkan terlebih dahulu H. M. Sa’dullah Ash Shodiq sebagai mushohih untuk membacakan sedikit gambaran tentang tema yang telah ditentukan. Sebelumnya peserta musyawarah dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan masalah yang  diberikan. Dalam diskusi kali ini ada beberapa pendapat yang pro dan kontra dalam permasalah yang dikaji sehingga diskusi semakin seru dan rame. Walaupun banyak terjadi pro dan kontra dalam musyawarah ini, musyawarah tersebut berlangsung dengan khidmat dan aman.

Setelah sekian lama acara musyawarah itu berlangsung, maka telah bisa disimpulkan bahwa bila seorang tersebut masih beragama islam maka orang tersebut dianggap musrik dan tetap bisa untuk disholatkan. Tetapi jika orang tersebut sudah keluar dari Islam maka orang tersebut tidak boleh untuk disholatkan. Jika orang tersebut hanya koar-koar dan tidak ada tindakan maka orang tersebut dihukumi seperti maksiat. Jika maksiat maka oarang tersebut harus segera bertobat dan jika sudah kufur maka orang tersebut harus melakukan syahadat ulang tutur H. M. Sa’dullah Ash Shodiq dalam menyampaikan kesimpulan.

 

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: