Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 20, 2016 in Artikel | 0 comments

Menutup Aurat yang Benar

Menutup Aurat yang Benar

Seindah bunga yang tumbuh di taman, seperti itulah kira-kira penilaian kita bila melihat wanita dengan jilbab terlilit di kepala. Mengenakan jilbab dewasa ini sudah menjadi bagian fashion sebagian besar kaum hawa. Banyak kalangan, baik artis, pebisnis, hingga anak-anak yang sekarang sering kita jumpai memakai jilbab. Hal ini menjadikan jilbab banyak digemari sehingga muncullah berbagai macam style jilbab dari yang sederhana hingga luar biasa ribetnya.

Namun pertanyaannya adalah sudahkah kita berjilbab sesuai syariat agama Islam? Apakah berbagai bentuk dan mاodel jilbab yang kita gunakan sudah islami? Kita tentu tidak akan tahu sebelum membaca tulisan di bawah ini. Syukur-syukur bacanya sampai katam di titik terakhir tulisan ini.

Sebagai muslimah, kita tentu tahu bahwa seorang wanita yang sudah baligh diharuskan menutup auratnya, kecuali muka dan telapak tangan. Dalam firman Allah SWT Q.S An-Nur: 31,

وقل للمؤمنات يغضضن من ابصار هن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن الا ما ظهر منها وليضر بن بخمر هن على جيو بهن صلى

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhisan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya, dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka,….”

Juga di dalam riwayat Muslim dan Bukhari, Asma binti Abu Bakar telah menemui Rasullulah SAW dengan memakai pakaian yang tipis, Sabda Rasullulah: “Wahai Asma!Seseungguhnya seorang gadis yang sudah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan muka saja.”

Menutup aurat tak cukup dengan hanya menutupi saja, tetapi juga tidak boleh transparan maupun ketat. Dalam uraian Ibnul ‘Abdil Barr rahimahu’llah ketika menjelaskan sabda Rasullullah SAW, beliau menyatakan: “Wanita-wanita yang dimaksud Rasullullah SAW ialah wanita yang memakai pakaian tipis yang menampakkan tubuhnya atau pun yang menunjukkan bentuk dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada zahirnya dan telanjang hakikatnya…”

Namun, fenomena yang sering kita lihat dewasa ini banyak sekali remaja muslimah yang memakai jilbab, tapi masih suka mengenakan celana ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh. Ada juga yang memakai rok, namun berbahan dasar kain transparan yang jelas-jelas memperlihatkan bentuk kaki. Hal ini mengingatkan penulis pada celetukan salah satu teman, “atas santri, bawah ngantri”. Naudzubillah….

Pernahkah Anda mendengar bahwa penghuni neraka sebagian besar adalah kaum hawa? Salah satu penyebabnya adalah tidak menutup aurat. Hadits riwayat Muslim, “Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain pada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan boleh masuk surga, serta tidak akan dapat mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan demikian daan demikian.” Ya, ternyata konsekuensi dari perbuatan tidak menutup aurat adalah masuk neraka. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dhindarkan Allah dari siksa neraka. Aamiin

Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini bila berkaitan dengan profesi yang mengharuskan membuka jilbab? Atau bagaimana kita menghadapi seloroh orang yang berkata, “nggak usah sok suci dengan pake jilbab, yang penting kan hatinya baik..” yang jelas-jelas membuat kita sakit hati? Jangan risau! Hidup dan rizki kita ada di tangan Allah SWT, bukan di tangan mereka yang mengatur dan memperolokmu.

Ada pepatah yang mengatakan, “Aturlah dirimu sendiri sebelum engkau diatur oleh orang lain.” Artinya, seseorang pasti akan menghargai prinsip kita bila kita memegang teguh prinsip kita. Kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Bukankah lebih baik bila hati bersih begitu pun dengan diri kita yang menutup aurat. Pikiran terasa nyaman, tenang, jernih, pahala teraih. Lagi pula di zaman serba modern ini, jilbab tetap tidak mengurangi lapangan kerja, asalkan kita punya potensi dan selalu berdoa pada Allah, pasti ada pekerjaan yang tentu lebih baik. Namun, janganlah salah mengartikan, lebih baik di sini bukan hanya gajinya yang besar, tetapi juga kebermanfaatan pekerjaan itu. Subhanallah…

                Memakai pakaian yang menutup aurat memiliki banyak manfaat bagi diri kita. Seperti yang kita tahu bahwa segala perintah dan larangan Allah pastilah meiliki manfaat untuk diri kita sendiri. Tidak mungkin Allah melarang sesuatu yang bermanfaat untuk kita dan memerintah sesuatu yang memberi mudorot.

Saya sendiri masih dalam tahap berusaha untuk menutup aurat yang sesuai dengan syariat Islam. Semoga kita semua dibimbing oleh Allah untuk menuju jalan yang benar dan semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka yang belum terbuka pintu hatinya untuk mengenakan jilbab.

(Aisyah)

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: