Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 15, 2017 in Kolom Santri | 0 comments

Menghargai Perbedaan

Menghargai Perbedaan

“Perbedaan adalah rahmat, maka cobalah buka dan perluas pandangan kita terhadap perbedaan itu.”

Sering kali, ketika kita mendapat kritik dari orang lain, k ita cenderung tidak suka menanggapinya. Betul apa betul? Yaps, kita memandang bahwa kritikan itu adalah wujud ketidakcocokan mereka kepada pendapat kita. Lantas kita seakan-akan merasa bahwa dia tidak memihak kita. Padahal, sebenarnya tidak begitu.

Kritikan adalah wujud sederhana dari perbedaan, dan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat. Bisa dibayangkan, jika semua peserta musyawarah berpendapat sama, apa guna musyawarah itu? Namanya bukan lagi musyawarah, tetapi intruksi penyeragaman persepsi.

Ustadz Eko Syahputra dalam kultumnya, Rabu (14/6) mengisahkan suatu kisah ilustrasi mengenai perbedaan.

Di suatu pesantren, begitu kisahnya dimulai, ada seorang santri yang suka telat jamaah Subuh. Padahal, pesantrennya tersebut terkenal dengan kebiasaan sholat jamaah Subuh tepat waktu. Dari semua santri, hanya dia seorang yang tidak bisa sholat jamaah tepat waktu. Selalu saja telat dan telat hingga membuat pengasuh dan pengurus memandang negatif padanya. Seolah-olah dia tidak mampu melakukan hal baik seperti yang lain. Dia berbeda, tapi tidak dipandang berbeda dalam hal yang positif.

Hingga suatu Subuh, seorang maling urung mencuri di pondoknya. Maling tersebut gagal mencuri motor lantaran melihatnya sedang berjalan menuju masjid, yang kebetulan melewati parkiran. Saat itu, si maling berfikir tidak akan ada santri maupun pengasuh yang tahu karena semua pasti sholat jamaah. Al hasil, santri telat(an) tersebut menyelamatkan pesantrennya dari korban pencurian.

Secuil kisah di atas memberikan kesimpulan, bahwasanya perbedaan yang tidak sama dengan kita belum tentu buruk. Begitupun dengan persamaan yang banyak dianut oleh orang, belum tentu baik. Banyak hal yang mungkin lebih baik kita temukan ketika kita memandang suatu perbedaan dengan cara pandang yang berbeda.

Namun, hal itu bukan berarti jika ada seorang warga masyarakat yang ketahuan maling adalah perbedaan yang baik. Pun begitu jika ada seseorang yang mengaku nabi adalah perbedaan yang baik. Ini tentu hal yang sesat. Meskipun, tanpa mereka dunia serasa lautan tenang tanpa gelombang (Aisyah)

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *