Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Apr 5, 2017 in Kabar Pondok | 2 comments

LAKPESDAM  Kota Semarang Gelar Bedah Buku di Ponpes Durrotu Aswaja

LAKPESDAM Kota Semarang Gelar Bedah Buku di Ponpes Durrotu Aswaja

Semarang- Bersama dengan Lakpesdam Kota Semarang  dan PCNU Kota Semarang, Ponpes Durrotu Aswaja ikut aktif mendorong terselengaranya bedah buku “ Obor Ulama Yogyakarta Kontribusi Ulama Yogyakarta untuk NKRI” seri 1 karya Dr. H. Samidi Halim. Untuk tujuan ini, PCNU menginginkan bahwa santri lebih mengenal para ulama terutama yang berada di Yogyakarta dan menumbuhkan rasa serta minat menulis santri, Rabu (5/4) di halaman Ponpes Durrotu Aswaja.

Baqiyatush Sholihah, S.T.h.I., M, Si. Yang memoderatori jalannya bedah buku tersebut mengatakan bahwa kita sebagai generasi muda harus mempelajari dan meneladani kisah dari ulama.

“Dalam buku ini, sumber refrensi sudah lengkap dan luar biasa, namun perlu adanya refrensi baru yaitu refrensi berdasarkan tutur, bukan hanya buku atau tulisan saja,” jelas K. Agus Ramadhan, S.Pd.I. pengasuh Ponpes Durrotu Aswaja sekalian pembedah buku tersebut.

Beliau juga menambahkan bahwa sekarang ini banyak berita atau sumber-sumber sejarah yang sudah luntur keasliannya. Seperti yang beliau jelaskan bahwa dalam masa penjajahan Belanda banyak makam para ulama yang namanya diganti atau dipalsukan identitasnya menjadi kuburan tayub (kuburan ladek), hal ini bertujuan agar para penduduk Indonesia tidak mengetahui silsilah dan sejarah para ulama (menghilangkan jejak para ulama). Sejarah  ini seperti halnya wahabi menghapus sejarah Islam di Arab Saudi.

Dalam pemaparannya, Tsabit Azinar Ahmad, MA sangat mendukung tradisi lisan karena dianggap sebagai sumber alternatif lain untuk menguak sumber sejarah Islam. Selain itu, beliau juga memaparkan salah satu peran ulama di zaman dahulu yaitu ulama membuka jejaring sosial globalisasi. Walaupun masih dalam genggaman penjajahan Belanda seorang ulama dapat menyebarkan agama Islam terutama sejak adanya jalan deandles dan rel kereta api dari Yogyakarta.

“Selain sanad dan matan yang sudah ditulis dengan cermat dan lengkap, esensi dari seorang ulama juga dapat dilihat dari kontribusi dan keteladanan dari tokoh ulama tersebut karena keteladanan adalah pendidikan yang paling baik,” ujar Tsabit Azinar Ahmad, MA selaku pembedah buku Obor Ulama Yogyakarta.

Menurut keterangan dalam bedah buku tersebut, ulama atau keraton diberikan daerah kekuasaan sendiri atau istilahnya adalah tanah perdikan yaitu jika tanah itu ditempati maka tidak akan ditarik pajak dan anti dari penjajahan. Maka dari itu sejak dulu pesantren adalah kawasan yang tidakpernah terjajah oleh Belanda terkecuali pemberontakan dari pihak intern tersebut.

“Sebagai seorang santri kita harus dapat dan pandai dalam bermedia, melai LTN NU sebagai cyber NU kita dapat memberikan informasi kepada pembaca karena dengan menggunakan media semua orang dapat mengaksesnya. Sebagai contoh yaitu adanya berita bahwa KH Hasyim Asy’ari telah berilmu kepada simbah dari Habib Luthi bin Yahya, hal ini sudah lama terjadi namun belum ada pemberitaan di media tentang itu. Selain itu juga adanya lebih dari 1400 habib/ulama yang belum terekspost atau diketahui banyak orang karena kurangnya informasi-informasi yang ada,” salah satu jawaban dari diskusi bedah buku. (Tam)

2 Comments

  1. Peran ulama Nusantara dalam pendirian dan menjaga keutuhan Bangsa sangat nyata. Melalui LTNNU kota Semarang ini mudah-mudahan dapat memberikan​ pencerahan dan menangkal berita Hoax yang merugikan​ umat Islam, khususnya kaum Nahdliyyin.

    • Aminn, semoga para ulama dan segenap elemen masyarakat baik nahdliyin maupun non mampu bersama menjaga keutuhan NKRI.

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: