Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Des 18, 2016 in Kabar Pondok | 0 comments

Kirab Maulid Santri dan Warga

Kirab Maulid Santri dan Warga

 

SEMARANG- Kirab maulid merupakan salah satu acara rutinan tiap tahun yang diselenggarakan warga Banaran. Acara ini merupakan serangkaian acara dalam rangka peringatan maulid nabi Muhammad SAW di Dusun Banaran, Desa Sekaran, Kec Gunungpati, Kab Semarang, Jawa Tengah.

Acara ini diikuti seluruh warga dusun Banaran, tak terkecuali santri Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah (Durrotu Aswaja). Kirab maulid ini dimulai dari kesibukan warga dan santri putra terutama dalam membuat maskot kirab. Maskot kirab yang berbentuk seperti bahtera naga kemudian diberi nama NAGA LAUT MERAH.  Maskot ini dirancang oleh santri yang notabene memiliki basic seni. Sementara dalam proses pembuatannya dibantu sebagian santri putra yang terdorong hatinya untuk merayakan maulid nabi SAW.

Setelah semua siap, warga dan para santri baik putra maupun putri berbaris rapi mengelilingi Dusun Banaran sekitar UNNES sampai di posko terakhir yaitu lapangan Banaran. Di sana baik santri maupun warga mengikuti malam puncak KIRAB MAULID yaitu pengajian dalam rangka memperingati maulid nabi yang diisi oleh Gus Rosyid dari Boyolali.

Dalam mau’idhoh khasanahnya, Gus Rosyid menerangkan tentang kutamaan maulid nabi diantaranya maulid nabi sebagai sarana menceritakan sejarah nabi kepada generasi muda, karena hanya melalui maulid inilah cara yang paling efektif untuk mengajarkan generasi muda tentang akhlak mulia Nabiyulloh Muhammad saw dan para sahabat. Setidaknya generasi muda tau bagaimana berakhlak dan menempatkan diri sesuai red: mencoba akhlak rosululloh dan para sahabat.

Maulid nabi merupakan cara paling efektif untuk membentengi para generasi muda dari perkembangan paham islam modern yang banyak diantaranya bersifat radikal. Dikalangan kampus UNNES banyak terdapat paham-paham islam yang tidak Ahlissunnah, maka dengan adanya maulid diharapkan mampu mengembalikan paham ahlissunnah sebagai paham yang paling berperan penting dalam ranah kampus UNNES dan sekitarnya.

Dalam mau’idhoh khasanahnya, Gus Rosyid juga memberikan wejangan bahwa jiwa memberikan peranan penting dalam diri manusia, tanpa jiwa raga bukan apa – apa. Manusia disebut masih memiliki ruh (jiwa jika perutnya masih bergetar (Ndut-Ndut), jantung didadanya masih berdegup (Deg-Deg), serta nafasnya masih berhembus (Pis-Pis). Ndut-Ndut, Deg-Deg, Pis-Pis, itulah kata-kata yang masih teringat jelas dalam benak setiap hadirin. Tak terkecuali para santri putra dan putri Ponpes Durrotu Aswaja.

 

 

 

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: