Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Mar 30, 2018 in Galeri, Kabar Pondok | 0 comments

Isra’ Mi’raj Sebagai Sejarah Perjuangan Nabi

Isra’ Mi’raj Sebagai Sejarah Perjuangan Nabi

Semarang – (29/3) Pondok Pesantren Durrotu Aswaja memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1439 H (29/3). Seksi Kerohanian Ponpes Durrotu

Santri saat membacakan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW (asw/doc)

Aswaja kembali mempelopori semangat para santri untuk mengadakan peringatan satu kali dalam satu tahun, yang mana pada tahun sebelumnya belum bisa terlaksanakan. Acara yang dilaksanakan dihalaman Ponpes Durrotu Aswaja ini tidak hanya dihadiri oleh para santriwan dan santriwati, tetapi segenap ustadz dan warga sekitar.

Dalam sambutannya, Muhammad fika Almuzabib selaku lurah pondok menyampaikan bahwa acara pada kali ini penting untuk selalu diingat dan disyukuri terlebih bagi para santri karena kenikmatan beribadah berupa sholat yang awalnya diperintahkan oleh Allah sebanyak 50 kali dalam sehari diringankan menjadi 5 waktu dalam satu hari.

“Jenengan semua patut bersyukur bahwa perjuangan dalam memerintah sholat menjadi 5 rokaat sangatlah panjang. Oleh karena itu kita sebagai santri perlu mengetahui bagaimana nabi muhammad berjuang,” tuturnya.

Puncak peringatan Isra’ Mi’raj disampaikan oleh Kiai Agus Romadhon S.Pd.I selaku pengasuh Pondok Pesantren Durrotu Aswaja. Dalam mauidhohnya diterangkan bahwa agama itu adalah sesuatu yang masuk akal, ketika tidak masuk akal maka itu bukan agama. Hal ini dicontohkan dalam perjalanan isra’ mi’raj yang hanya ditempuh dalam semalam oleh Nabi Muhammad SAW. Mengenai hal tersebut jika dinalar oleh manusia zaman sekarang itu tidak mungkin bisa terjadi, tetapi kita sejak lahir sebagai umat islam wajib mempercayai peristiwa tersebut.

Mengakhiri mauidhoh ,beliau berpesan bahwa secerdas apapun seseorang dalam beragama tidak bisa dipelajari dengan mengandalkan teknologi, mungkin dari isinya secara garis besar bisa tetapi masalah keberkahan dan otentiknya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

“Secerdas apapun panjenengan,agama tidak bisa dipelajari dengan mengandalkan teknologi. Semua itu juga membutuhkan guru. Jika jenengan belajar sendiri tanpa adanya seorang guru maka Syaitanlah yang menjadi gurumu,” tambahnya. (Alisah)

 

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: