Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 13, 2017 in Kolom Santri | 0 comments

Bukber dan Teka Teki di Dalamnya  

Bukber dan Teka Teki di Dalamnya  

“Makanlah makanan yang halal lagi baik, dan jangan berlebihan”

 

Selama Ramadhan, ajakan bukber semakin banyak seperti kehadiran blewah yang musiman. Iya, musiman. Wong kehadirannya hanya sekali dalam satu tahun, selama satu bulan. Ngomong-ngomong soal bukber sepertinya tidak akan habis membahas kapan, mau dimana, menunya apa, bayar berapa, dan siapa saja.

Terlepas dari itu semua, apa sih yang kita dapatkan dari bukber selama ini. Pernahkah kalian renungkan? Kalau belum, yuk kita renungkan bersama. Bukber atau buka bersama merupakan istilah yang digunkan kala suatu kumpulan tertentu mengadakan makan bersama di waktu buka puasa.  Baik kumpulan teman, organisasi, rekan kerja, keluarga, bahkan teman lama pun kadang tak mau kalah mengadakan bukber. Semua itu sah-sah saja asal kita bisa menyikapi dengan benar.

Lalu seperti apa yang benar itu?  

Perhatikan manfaat

Mengadakan bukber tentu ada manfaatnya. Kita bisa saling berdiskusi membahas agenda atau apa pun itu yang terkait dengan kepentingan. Jam-jam di saat itu lebih baik daripada digunakan hanya untuk ngabuburit keliling ke mana-mana tanpa tujuan yang jelas.

Akan tetapi, seringnya ketika diadakan bukber, para personil datangnya justru menjelang waktu berbuka. Sehingga pembahasan atau diskusi kurang maksimal. Berbeda lagi jika diskusi diadakan malam hari setelah tarawih atau siang hari. Namun, tentu ini bukanlah hal yang saklek. Ada kalanya di waktu siang dan malam mereka punya kesibukan masing-masing. Toh bukankah lebih enak jika pembahasan ditutup dengan makan-makan bareng?

Selain hal di atas, kita bisa mengukuhkan tali persaudaraaan. Momen yang datang setahun sekali ini harus dimanfaatkan dengan baik dan benar, kumpul teman lama misalnya atau keluarga yang berjauhan dan mumpung lagi mudik. Tapi, bagaimana jika kumpulan yang sudah kumpul terus tiap hari masih juga mengadakan bukber? Tentu saja ikatan ukhuwahnya semakin erat dong.

Kondisi kantong

Kalau bukber di restoran maupun tempat manapun, tentu saja kita keluar iuran kan? Kecuali kalau tiap individu membawa makanan masakan mereka masing-masing. Hal ini tentu lebih ngirit. Tak bisa dipungkiri kebutuhan Ramadhan semakin menanjak. Sebuah paradoks dimana kita seharusnya diajarkan untuk berhemat dan mengendalikan nafsu. Perutnya lapar, tapi hasratnya masih besar.

Yaps, mau tak mau kondisi kantong pun mulai kembang kempis. Memang sih, tidak bukber pun kantong juga bakalan tipis wong ya kita butuh makan. Tapi, setidaknya tidak setipis dan kembang kempis kalau bukber dengan pengeluaran yang agak berlebihan. Ya, faktanya memang seperti itu kan? Nggak mungkin kita pesen minum doang sedangkan yang lain makan?

Meskipun kondisi kantong kempis tak selamanya disebabkan oleh bukber yang makin santer.

Frekuaensi

Mengikuti buka bersama itu baik, apalagi menghadiri undangan buka bersama, itu malah wajib. Seperti kata Rasul, bahwasanya kalau kita diundang maka kita harus hadir, kecuali ada udzur syar’i. Bahkan terkadang undangan dan ajakan bukber tidak cuma satu dalam sehari. Ada A yang mengajak duluan, namun B lebih penting, dan bareng C lebih asyik. Kalau seperti ini, kembali ke sabda Rasul, hadiri yang mengundangmu lebih dulu.

Terus, bagaimana jika undangan seperti itu datang setiap hari? A di hari senin, B di hari selasa, C di hari Rabu, dan D, dan E, dan seterusnya sampai separuh Ramadhan kita diisi dengan agenda bukber yang menumpuk. Padahal di rumah keluarga kita sudah masak, atau kita sedang tidak banyak uang karena keperluan lain, atau dengan bukber sendiri kita bisa lebih irit. Maka menurut penulis, pandai-pandailah menyeleksi ajakan bukber.

Bukber boleh asal pandai memanajemen semua itu. (Aisyah)

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: