Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Mar 17, 2017 in Kabar Pondok | 0 comments

Bedah Film “Sang Kiai”

Bedah Film “Sang Kiai”

SEMARANG. Raut wajah yang serius dan senyum yang ditorehkanPak Edi Subhan, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menandakan rasa senang beliau menceritakan sosok Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, tokoh besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Di sini Pak Edi Subhan berperan sebagai pembedah film “Sang Kiai” dalam acara bedah film yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah tadi malam di aula putra dan putri, Senin 30 Agustus 2017 pukul 20.00 hingga 22.30 WIB. Agenda tadi malam diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah tanpa terkecuali.

Pak Subhan menuturkan bahwa Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari adalah pribadi yang luar biasa. Beliau mempunyai visi yang sangat jauh ke depan. Beliau mementingkan visi jangka panjang dari pada jangka pendek. Terkadang beliau mengorbankan visi jangka pendek demi kebaikan visi jangka panjang sehingga beliau dicurigai, difitnah oleh banyak orang karena kesalahpahaman mereka. Baru setelah semuanya terbukti kalau hal itu mempunyai peran positif terhadap banyak orang, mereka yang semula curiga dan berfikir negatif akhirnya setuju dengan pemikiran beliau.

Pada awalnya pemikiran beliau tidak terlalu dikenal oleh kalangan muda Indonesia karena di Indonesiatidak banyak yang menuliskannya. Tradisi yang dimiliki Indonesia dalam penyampaian ilmu ataupun yang lainnya pada masa itu adalah melalui alat wicara atau secara lisan seperti yang diterapkan dalam syair, dongeng, dan karya sastra lainnya. Pada masa itu juga, yang banyak menulis adalah kalangan dari barat sehingga kisah-kisah yang ada di Indonesia kebanyakan ditulis dengan setahu mereka. Padahal yang paham betul mengenai apa yang terjadi di Indonesia adalah rakyat Indonesia sendiri. Karena merekalah yang tinggal di Indonesia, makan dan minum di Indonesia secara langsung. Akibatnya, karya-karya mengenai toriqoh dan sejenisnya banyak yang terjemahannya salah, kemudian dianut oleh banyak orang sehingga menimbulkan lebih banyak lagi kesalahan (salah kaprah).

Dirasa sangat banyak yang bisa dituliskan oleh Indonesia dan untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan yang dianut banyak orang, baru pada tahun 2006 banyak yang menulis mengenai pemikiran-pemikiran Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan tokoh-tokoh NU lainnya. Hal itu  dipelopori oleh Abdurrahman Wahid atau yang sering di sapa denganGus Dur agar kalangan muda Indonesia lebih-lebih muda-mudi pesantren yang kebanyakan lebih tau mengenai hal itu mempunyai bakat tulis-menulis. Gerakan tersebut dinamakan Gerakan Indonesia Menulis (GIM).Akan sangat disayangkan apabila kalangan muda Indonesia tidak pintar menulis karena dengan menulisakan memberikan perubahan dan manfaat besar bagi bangsa.

Dalam acara ini dibuka juga sesi tanya jawab oleh moderator. Ada pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh seorang santri yaitu mengenai bagaimana K. H. Hasyim Asy’ari bisa mendapat gelar sebagai hadratus syekh dan bagaimana pandangan mata politik dunia terhadap peranan NU. Pak Subhan kemudian menjelaskan lagi bahwa setahu beliau, satu-satunya orang yang mendapat gelar hadratus syekh adalah K. H. Hasyim Asy’ari karena ulama seterusnya tidak ada yang mau dan mampu menerima gelar itu. Kenapa demikian? Hal itu disebabkan karena K. H. Hasyim Asy’ari adalah orang yang berhasil menyatukan ulama dalam jamiyah para ulama.

Setelah terjadi peradaban Islam di Arab, mulai banyak yag lepasdari mahdzab yang selama ini dianut. Namun para nahdliyin tetapberpegang teguh dengan mahdzabnya, menjaga yang baik dan mengambil yang lebih baik. Bagi golongan yang bukan nahdliyin, hal itu dirasa tidak benar. Mereka mengatakan bahwa itu adalah Tahayul, Bit’ah dan Churafat (TBC). Namun para nahdliyin mengabaikan perkataan itu. dan mneyikapinya dengan santai.

Selanjutnya menurut pandangan mata politik dunia, NU memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap belahan dunia di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan yang masih berada dalam bayang-bayang kolonialisme. Tokoh Bung Karno saat itu juga menjadi pelopor, merenovasi makam Bukhori. Selain itu kalau dikaitkan, ulama NU banyak yang membantu membuka pintu ijtihad lagi yang sebelumnya tertutup oleh munculnya orang-orangyang mengaku berijtihad namun mereka berada pada metodologi ijihad yang salah.(31/01)

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *