Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Feb 4, 2017 in Kolom Santri | 0 comments

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Perspektif Matematika

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Perspektif Matematika

 

Amar ma’ruf nahi mungkar, dalam matematika itu seperti pembuktian langsung (amar ma’ruf) dan pembuktian tidak langsung (nahi mungkar) dalam membuktikan suatu teorema. Jika kita ingin membuktikan suatu teorema, perlu kita gunakan dua cara di atas. Pembuktian langsung, menunjukkan secara langsung bahwa teorema tersebut bisa dibuktikan. Pembuktian tidak langsung, dengan mengandaikan teorema tersebut salah, maka dapat kita temukan kontradiksi dengan fakta yang ada.

Kemudian pengandaian dibatalkan, teorema terbukti. Secara tidak langsung, pembuktian langsung juga bisa mewakili pembuktian tidak langsung. Keduanya mempunyai tujuan sama. Keduanya pun tidak bertentangan satu dengan yang lain, karena mempunyai langkah pembuktian yang berbeda, tetapi mempunyai tujuan yang sama. Inilah perumpamaan amar ma’ruf nahi mungkar. Satu dengan yang lain saling mewakili. Keduanya punya cara sendiri, tetapi tujuannya sama.
Meskipun dalam pembuktian teorema kita sering menggunakan pembuktian tidak langsung, tetapi ada dosen yang berkata, “pembuktian tidak langsung kita gunakan jika memang pembuktian langsung tidak bisa kita gunakan”. Nah, tahu maksudnya kan ? 🙂 Amar ma’ruf lebih diutamakan. Jika ikhtiar itu sudah buntu, maka nahi mungkar baru beraksi.

Saya berpendapat seperti ini ada dasarnya juga. Bisa dilihat dalam kitab “Mabaadi Awaliyah” tentang “amar” bahwa, الأمر بالشيئ نهي عن ضده ” Perintah dalam mengerjakan sesuatu merupakan larangan untuk melawan (meninggalkannya)”.  Nah, Matematika, sudah. Ushul fiqh, sudah. Sekarang, gimana dengan bidang ilmu kalian? (Hasan)

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *